Pagi ini aku bangun pukul 07:00, sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Di meja makan ada dua kursi, tapi hanya satu yang terisi. Kursi di seberangku selalu kosong, meski setiap pagi aku tetap menaruh cangkir di atasnya, seakan seseorang akan datang dan duduk di sana. Kopi yang kuseduh terasa pahit dan hambar sekaligus, seolah kehilangan tujuan untuk menyegarkan pagi ini. Di luar jendela, langit abu-abu muda, menggantung tanpa arah, dan jalanan sunyi seperti potongan film yang berhenti bergerak. Ponselku di meja diam, tidak bergetar, tidak bersuara. Aku menatapnya lama, berharap ada pesan atau telepon masuk, lalu berpikir “mungkin inilah caraku berbicara, dengan keheningan yang makin tebal setiap hari bagai lapisan dinding disebuah benteng perang.”
Aku menatap kursi kosong itu lama sekali, sampai rasanya seperti kursi itu sedang menatap balik. Cat kayunya sedikit terkelupas di bagian sandaran, tapi bentuknya tegak sempurna, seolah menjaga rahasia yang tidak bisa aku ungkap. Di cangkir yang kutaruh di sana, kopi tetap penuh, tanpa ada jejak bibir. Anehnya, di setiap pagi kopi itu selalu habis tidak tersisa saat aku kembali dari kamar mandi, dan aku tidak pernah benar-benar ingin tahu siapa yang meminumnya.
Di sudut ruang tamu, sebuah bingkai foto berdiri. Kacanya retak, membentuk garis-garis seperti jaring laba-laba. Foto di dalamnya menghilang, digantikan selembar kertas putih dengan noda samar seperti bekas kopi. Kadang, saat aku menatapnya terlalu lama, aku merasa ada suara tipis dari balik retakan itu, berbisik pelan, tidak jelas, tapi cukup untuk membuatku teringat bahwa sesuatu memang pernah ada di sana, sesuatu yang hilang, sesuatu yang pernah menjadi bagian dari diriku.
Malam sebelumnya, aku mendengar suara pintu terbuka. Padahal aku tinggal sendirian, dan pintu rumahkuku terkunci rapat. Suara itu tidak keras, justru pelan, seperti seseorang sengaja masuk tanpa ingin mengganggu. Ketika aku menoleh, tidak ada apa-apa, terkadang itu membuatku bertanya-tanya, siapa yang pernah hidup bersamaku? Hanya ruang tamu yang gelap, dan kursi kosong yang masih berada di tempatnya. Tapi aku tahu, ada yang berubah. Udara terasa lebih berat, dan keheningan malam itu seperti menempel di kulitku, dingin dan tidak dapat dilepaskan.
Pukul 02:00 dini hari aku terbangun. Tidak ada suara alarm, hanya kesenyapan yang begitu padat hingga rasanya bisa disentuh. Jam dinding berdetak, tetapi jarumnya tidak bergerak, waktu terasa membeku di dunia yang masih gelap ini. Aku bangun dari tempat tidur dan berjalan ke ruang tamu.
Kursi kosong di seberang meja masih ada, cangkir di atasnya penuh kembali, mengeluarkan sedikit uap tipis meski aku tidak pernah menuangnya lagi kecuali di pagi hari bersamaan dengan diriku yang hendak meminum kopi. Bingkai foto di sudut ruangan kini benar-benar gelap, seolah kertas putih di dalamnya telah menelan seluruh cahaya. Retakan pada kacanya bergetar perlahan, seperti sedang bernapas.
Aku membuka jendela. Dunia di luar sudah berubah. Jalanan kosong tanpa mobil, tiang listrik berdiri tanpa kabel, dan gedung-gedung tampak seperti cangkang kosong tanpa jendela. Udara di luar tidak bergerak, seperti dunia berhenti tepat sebelum suara bisa lahir, waktu benar-benar membeku.
Saat aku menoleh ke meja, ponselku menyala dengan sendirinya. Layarnya retak, dan di sana muncul satu kalimat yang berulang, tidak berhenti,
“Kamu akan mendengarku, saat aku menghilang, berbahagialah ketika aku ada.”
Aku mencoba berbicara, sekadar untuk memastikan aku masih ada, tapi suaraku tidak keluar. Hanya keheningan yang makin tebal, menutup ruang seperti kabut.
Aku menutup mata sejenak, berharap ketika kubuka kembali, semuanya kembali normal. Tapi yang kudengar hanyalah keheningan yang memadat, seolah seluruh dunia telah menelan suaranya sendiri.
Ketika kulangkah mendekati meja, kursi kosong itu tidak lagi kosong. Seseorang sudah duduk di sana, siluetku sendiri, menatapku dengan wajah yang sama tapi lebih pucat, lebih rapuh, dengan mata cokelatnya. Ia mengangkat cangkir dan meminumnya perlahan, meninggalkan noda samar di bibirnya.
Aku ingin bertanya siapa dia, tapi mulutku tetap terkunci. Yang ada hanya tatapannya, seakan berkata “kau sudah tidak diperlukan lagi di sini.”
Lalu perlahan, sosok itu tetap duduk, sementara aku merasa tubuhku menipis, larut ke dalam kesunyian. Hingga akhirnya, hanya kursi dan cangkir yang tersisa di ruang tamu, dan dunia kembali berjalan.