Pagi ini aku bangun pukul 07:00, sama seperti hari kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Aku membuat secangkir kopi panas yang terasa hambar, seolah airnya lupa membawa rasa. Di luar jendela langit menggantung pucat kekuningan. Tanpa arah, aku menatap dinding, mencoba mengingat sesuatu yang aku lupakan dari sebuah mimpi tadi malam, hanya ada sebuah pintu berwarna hijau yang berdiri sendirian di tengah sebuah hamparan gurun tandus kering. Ponsel di meja bergetar sekali lalu berhenti. Aku tidak menyentuhnya, hanya meliriknya. Dalam pantulan kaca, bayanganku menatapku balik, matanya sedikit lebih gelap seolah memperlihatkan kekosongan didalam tatapannya, dan aku yakin bibirnya bergerak dan sedikit menyeringai sebelum aku sempat bicara.
Suara kicau burung yang entah dari mana memecah keheningan. Bunyinya seperti potongan nada yang diulang-ulang, tidak pernah berubah, tidak pernah selesai, terus menerus berkicau dengan nada yang sama. Aku mencoba mencari asalnya dengan menoleh keluar melalui jendela, tapi yang kulihat hanya jalan kosong dan tiang listrik berkarat. Mungkin suara itu datang dari kejauhan, atau mungkin dari dalam kepalaku sendiri. Kopi ditanganku sudah dingin.
Aku kembali duduk. Ada perasaan aneh yang sudah beberapa hari ini menempel di tubuhku, perasaan ringan, tetapi bukan ringan yang menyenangkan, dan menenangkan. Lebih seperti sebagian dari diriku secara perlahan menghilang, diambil diam-diam tanpa izin. Aku tidak tahu oleh siapa, atau apa. Hanya saja, setiap pagi ketika aku terbangun, ada sesuatu yang menguap dari dalam diriku dan pergi. Dan hari ini, aku tidak dapat mengingat warna mataku sendiri.
Di halte bus dekat rumah, aku melihat seorang perempuan berdiri sendirian. Rambutnya pendek, jatuh tepat di bawah telinga, dan ia memegang sebuah buku tanpa sampul, buku itu terlihat putih bersih namun memiliki sedikit titik noda kecil yang dapat terlihat dengan mudah. Hujan tipis turun, tapi ia tidak membawa payung. Saat aku berdiri di sampingnya, ia menutup bukunya perlahan, menoleh dan berkata, “Kamu sedikit demi sedikit menguap, dan mulai menghilang. Kamu ada tapi tidak dapat terlihat..”
Aku tidak menjawab. Kata-kata itu jatuh begitu saja di udara, seperti daun yang melayang sebentar sebelum menyentuh tanah. Perempuan itu tersenyum tipis, seakan tahu aku tidak akan bertanya apa maksudnya. Lalu bus datang, dan ia naik tanpa menoleh lagi. Aku tetap berdiri tanpa ikut naik ke dalam bus, menatap kekosongan sambil memikirkan apa yang ia katakan.
Aku berjalan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata itu terulang di kepalaku “Kamu sedikit demi sedikit menguap, dan mulai menghilang. Kamu ada tapi tidak dapat terlihat.” Di rumah aku menatap bayanganku di cermin kamar mandi. Terdapat jeda aneh setiap kali aku bergerak, bayanganku selalu terlambat sepersekian detik. Dan saat aku mencoba tersenyum, bayangan itu tidak membalas.
Malam itu aku terbangun tanpa alasan. Jam di dinding menunjukan pukul 02:00 dini hari. Rumahku terasa lebih dingin dari biasanya, dan aku bisa mendengar langkah kaki di ruang tamu. Bukan langkah cepat, melainkan langkah berat yang menyeret seperti seseorang sedang menunda setiap gerakannya.
Aku keluar dari kamar dan menemukannya, pintu hijau dari mimpiku, berdiri di tengah ruang tamu. Tidak ada dinding di belakangnya, hanya pintu itu, tegak, tanpa pegangan. Dari sela-selanya , keluar cahaya pucat yang tidak menyilaukan mata. Aku mendekat, mencoba membuka pintu itu.
Sebelum aku dapat membukanya, tiba-tiba di permukaan pintu, ada pantulan dari diriku. Tapi kali ini, pantulan tersebut bukan hanya pantulan. Ia duduk di kursi kayu di sebuah gurun tandus, menatapku dengan tatapan yang sudah lama kulupakan. Matanya jernih, berwarna cokelat yang sebelumnya aku lupakan. “Aku yang kau tinggalkan, sebuah kenyataan dan kebenaran.” katanya. suaranya seperti gema yang datang dari dasar sumur.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku.
“Kau memberi sedikit demi sedikit. Waktu, kata-kata, perasaan. Sampai tidak ada yang tersisa kecuali kulit dan topeng yang kau kenakan sekarang.”
Aku ingin menjawab, tapi mulutku kelu. Pantulan itu membuka pintu dari dalam, dan mengulurkan tangannya. Cahaya di baliknya terasa hangat. “Ayo, kemarilah, atau kau akan hilang sepenuhnya, mari kita menjadi satu.”
Aku merasa ragu. Di luar, suara burung yang sama terdengar sekali lagi, nada yang selalu brulang. Lalu aku melangkah masuk.
Ketika pintu menutup, ruang tamu kembali kosong. Cangkir kopi hambar di meja masih setengah terisi, uaapnya sudah lama hilang.