Aku terbangun di tengah badai, angin meraung, petir menghantam tanah, hujan menekan jendela dengan amarah. Tapi yang paling mengganggu dan memekakan bukanlah suara di luar sana, melainkan keheningan didalam diri. Kesunyian terkadang terasa lebih keras daripada ribuan teriakan, lebih tajam daripada petir yang membelah langit sekalipun.
Hari-hari sebelumnya aku lalui seperti arwah. Aku bangun, berjalan dan kembali tidur tanpa benar-benar merasa hidup. Tubuhku bergerak, tetapi terasa kosong, seperti cangkang yang hanya mengikuti arah angin. Aku sering bertanya-tanya, “Apakah aku hidup atau hanya melakukan kebiasaan yang terlanjur aku panggil kehidupan?”
Suatu malam pada pukul 12, aku menemukan sebuah cermin yang retak di sudut kamar dibalik lemari. Aku sedikit menggesernya, terdapat retakan dibagian atas tepat menyilang di pantulan wajahku ketika aku menatapnya. Disana, dalam pantulan, aku melihat sosok lain dari diriku yang lama. Wajahnya pucat, dengan mata redup nan kosong, bibir kaku yang terlihat sulit untuk tersenyum. Sosok itu menatapku lama, seolah ingin menarikku kembali.
“Aku bukan lagi hantu dari masa laluku, pada saat ini, aku berdiri sebagai seseorang yang baru yang ingin melangkah maju tanpa harus menengok kebelakang.” bisikku pada pantulan itu. Tapi pantulan itu hanya terdiam, seperti sedang menungguku untuk menyerah.
Aku mencoba untuk memalingkan pandangan darinya. Di dalam remang-remang kamar terdapat secercah cahaya samar dari sebuah nyala kecil tepat di dadaku. Api yang aku pikir telah mati ternyata masih menyala. Api itu membisikikan sebuah nama asing, namun sekaligus akrab. Nama itu bukan yang biasa orang pangggil, melainkan nama yang terasa seperti inti keberadaanku, yang telah lama terkubur oleh rasa takut dan kepura-puraan tersembunyi dibalik topeng yang telah lama aku pakai.
Tubuhku bergetar. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar hidup.
Aku menutup mata. Retak dari cermin itu mulai melebar, dan pada akhirnya terpecah. Aku hanya terdiam, tidak melawan, membiarkannya hancur. Masa lalu melelahkan yang dipenuhi perasaan apatis, serta kekosongan, aku biarkan terpecah dan terbakar menjadi abu oleh api kecil dari dadaku.
Api di dadaku perlahan semakin membesar. Rasanya hangat, lalu memanas, terasa membebaskan. Dari nyala itu aku merasakan sayap tumbuh, tidak terlihat tapi nyata, seperti keberanan yang akhirnya terbentuk.
Aku membuka jendela. Badai masih mengamuk, tapi kali ini aku tidak takut. Aku melangkah melewati batas pintu membiarkan hujan membasahi diriku, membiarkan kilat menyambar langit, membiarkan raungan angin membawaku.
Dan ketika aku menatap ke atas, aku tahu, aku tidak lagi sama, aku bukan diriku yang kemarin, dan juga besok aku bukanlah diriku hari ini, setiap waktu selalu ada yang namanya perubahan kecil baik secara sadar ataupun tidak. Aku terjatuh, bangun, dan bangkit kembali dari abu, menuju cahaya yang akhirnya memanggilku pulang.